Benarkah Berbicara Sendiri Bikin Sehat?

Jumat, 09 Februari 2018

Benarkah Berbicara Sendiri Bikin Sehat?


Benarkah Berbicara Sendiri Bikin Sehat?

Pernahkah Anda berbicara dengan diri Anda sendiri? Mungkin banyak orang berpikir bicara sendiri atau self-talk terkait erat dengan gangguan jiwa seperti skizofrenia atau semacamnya.

Akibatnya, banyak orang merasa tidak nyaman berbicara dengan diri sendiri. Padahal,  hal tersebut tak sepenuhnya benar.

James McConnell, seorang ahli biologi dan ahli psikologi hewan Amerika, mengatakan bahwa berbicara sendiri sebenarnya sehat secara psikologis. Hal serupa juga diungkapkan oleh Jill Bolte Taylor, seorang ahli saraf.

Membuat Fokus

Taylor dalam bukunya yang berjudul My Stroke of Insight menyebut bahwa berbicara kepada diri sendiri dengan keras dapat membuat pikiran lebih fokus. Bahkan, cara ini bisa disebut sebagai "alat yang hebat" (untuk membuat pikiran fokus).

Selain kedua ahli tersebut, para ahli lain juga punya pandangan serupa. Misalnya Gary Lupyan dan Daniel Swingley dalam laporannya di The Quarterly Journal of Experimental Psychology, menyebut bahwa berbicara dengan diri sendiri juga berfungsi sebagai pidato mandiri.

Cara ini juga disebut membuat kita lebih mudah untuk mendeteksi keberadaan benda yang dicari. Dengan mengutarakan nama benda secara keras membuat kita lebih mudah membayangkan bentuk benda tersebut dibandingkan hanya memikirkannya saja.

Fenomena ini disebut dengan hipotesis timbal balik.

Merasa Lebih Baik

Sayangnya, belum jelas bagaimana hipotesis timbal balik ini dapat diterapkan pada konsep kebahagiaan. Mungkinkah saat kita mengucapkan kebahagiaan pada diri sendiri membuatnya menjadi ada?

Ternyata hal ini bisa dibuktikan oleh penelitian dari University of California, Los Angeles. Penelitian tersebut menemukan bahwa siswa yang mengulangi penegasan (kalimat) positif menunjukkan tingkat hormon stres yang lebih rendah.

Sebuah penelitian lain yang dipublikasikan dalam Personality and Social Psychology Bulletin oleh tim peneliti dari Columbia, Berkeley, dan Google menyebut bahwa penegasan positif membantu orang yang berada di posisi terendah untuk menunjukkan sisi yang lebih baik.

Lebih Terorganisir

Dalam tulisannya di PsychCentral yang berjudul "Talking to Yourself: A Sign of Sanity", psikolog Linda Sapadin menyebut bahwa berbicara pada diri sendiri membuat kita memusatkan perhatian, mengendalikan emosi, dan mencegah gangguan.

Sapadin menyebut bahwa ini mungkin cara terbaik bagi beberapa orang untuk berorganisasi. Seperti orang yang membuat daftar tugas atau menggambar, mungkin bagi beberapa orang, pekerjaan lebih mudah jika dilakukan sambil mengucapkannya keras-keras.

Hal ini juga dijelaskan oleh Matt Duczeminski dalam bukunya 6 Benefits of Talking to Yourself (No, You’re Not Crazy). Duczeminski menyebut bahwa berbicara melalui pemikiran Anda membantu membedakan mana tugas besar dan kecil.

Tak Semua Bermanfaat

Sayangnya, tak semua self-talk bermanfaat. Salah satu contoh berbicara pada diri sendiri yang tak bermanfaat adalah membicarakan kegagalan.

"Pembicaraan diri seperti itu lebih buruk daripada tidak berbicara sama sekali," ungkap Sapadin.

Hubungan antara self-talk negatif dengan depresi juga cukup kuat. Biasanya orang yang terlibat dalam pengalaman self-talk negatif mengalami stres dan kesehatan yang menurun, baik secara psikologis maupun fisik.

Pakar bahasa Steven Hayes mengibaratkan pikiran negatif seperti penumpang di jok belakang mobil yang sedang Anda kendarai. Anda mendengarnya berbicara, tapi fokus Anda seharusnya berada di depan tugas.

Untuk mengatasi self-talk negatif ini, kita bisa memberinya sebuah nama. Ini speerti yang dilakukan oleh Brene Brown, pengarang The Gifts of Imperfection and Daring Greatly.

Brown memberi nama kritikus batinnya The Gremlin. Dia menyebut hal ini membuat suara di kepalanya lebih ringan.

0 komentar :

Posting Komentar